top of page

Dodol Nyak Mai, Camilan Legendaris Warisan Betawi

Tim ArtINESIA berkunjung ke kios Dodol Nyak Mai di Perkampuangan Setu babakan, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

2 Januari 2014 17:14

JAKARTA - Berkunjung ke Setu Babakan, rasanya kurang lengkap tanpa menikmati sajian kuliner khas Betawi. Dodol menjadi pilihan tepat bagi pengunjung Setu Babakan yang ingin merasakan sensasi menikmati kuliner legendaris khas Betawi ini.

 

    Namanya Dodol Betawi Nyak Mai, kuliner khas Betawi yang sudah ada sejak 30 tahun lalu ini kini menjadi salah satu penghuni kawasan Setu Babakan. Dodol Betawi Nyak Mai ini merupakan salah satu bisnis rumahan yang ada di Setu Babakan. Kini, bisnis dodol Betawi Nyak Mai ini dijalankan oleh anak kelimanya yang bernama 

Juani.

    Juani merupakan keturunan kedua yang meneruskan bisnis dodol Betawi Nyak Mai. Membuat dodol Betawi Nyak Mai ini diakui Juani sebagai takdir yang harus dijalani olehnya. “Ya memang mungkin sudah jalurnya seperti ini ya, jadi saya harus jalanin,” jelas Juani. Sebagai penerus Nyak Mai, Juani sadar bahwa pekerjaan sebagai pembuat dodol dapat melestarikan budaya Betawi yang menjadi kebanggaannya. “Ya, kan emang dodol dari Betawi asalnya,” ujar Juani.

 

    Produksi dodol Nyak Mai dilakukan tiga kali seminggu dengan menghabiskan 40 kg bahan bakunya. Biasanya, Juani dibantu oleh suami dan lima karyawannya yang semuanya laki-laki. “Bahan dodol yang masih cair dikerjakan perempuan. Setelah mau jadi atau mengental baru pakai tenaga laki-laki, karena sudah mulai berat mengaduknya,” tutur Juani.

 

    Menurut Juani, dodol buatannya mampu bertahan hingga satu bulan dan tidak berjamur. Hal ini dikarenakan proses pemasakannya yang lama sehingga membuat bahan matang dengan sempurna. Juani juga enggan membuat dodol dengan berbagai varian rasa yang kini marak di pasaran. Menurutnya, penjualan dodol rasa tidak begitu laris dan orang tua cenderung menyukai dodol rasa original.

 

    Dodol Nyak Mai ini cukup terkenal di seantero Jakarta dan tak membuka cabang selain yang ada di Setu Babakan, “ya kita sih dari mulut ke mulut aja dan nggak ada publikasi khusus, kita juga nggak buka di tempat lain,” kata Juani. Meskipun hanya ada di Setu Babakan, hal ini tidak mengurangi omset yang didapat Juani. Dengan modal Rp 90.000 sekali produksi, Juani mampu memperoleh keuntungan kotor mencapai Rp 1.600.000. Jumlah ini bisa dibilang cukup untuk kehidupan Juani dan keluarganya.

 

    Untuk bisa menikmati dodol Nyak Mai ini kita tidak perlu repot-repot merogoh kocek dalam-dalam. Juani menjual dodolnya dalam berbagai ukuran. Ada yang dijual Rp 40.000/kg, ada juga yang dikemas dalam bentuk lonjong dan kotak dengan harga Rp 12.000. Meski sudah terkenal di seantero Jakarta, Juani tetap mempertahankan usahanya menjadi usaha rumahan dan belum berpikiran merambah pasar yang lebih besar dan modern. Mempertahankan ketradisionalan, menurutnya, akan membuat Dodol Betawi lebih memiliki nilai dan tidak pasaran.


    Penasaran ingin merasakan? Anda bisa langsung datang untuk melihat proses pembuatannya, atau bisa telepon ke 021-78891960 . Rasanya? Hmmm...legit dan kenyal! Silakan buktikan! (Aji)

 

Semua tulisan, potret, dan video disusun oleh tim ArtINESIA

                 TIm ArtINESIA:

@megumigunawan @nellyhassani @ridwanajii @rizkiasra

 

bottom of page